Ketika Kita Berebut Kedelai dengan Babi di China

Indonesia membutuhkan 3 juta ton kedelai setiap tahun untuk bahan baku tempe dan tahu. (Pixabay)

TEKIWE.COM – Istri saya mengeluh. Keluhan kebanyakan mak-mak saat ini. Selain harga minyak goreng, juga harga tempe yang mahal. Keluhannya seragam. Seperti paduan suara.

“Tempe yang biasanya dijual harga 5.000 sama Paman Sayur, sekarang jadi 10.000,” katanya.

Sejak harga tempe mahal saya jadi ingat Sandiaga Uno, Menkraf kita itu. Kondisi saat ini seperti ‘nubuatan’ tempe setipis ATM-nya pada tahun 2018 yang jadi kenyataan.

“Tempe katanya sekarang sudah dikecilkan dan tipisnya udah hampir sama dengan kartu ATM. Ibu Yuli di Duren Sawit kemarin bilang, jualan tahunya sekarang dikecilin ukurannya,” ujar Sandiaga kala itu. Sebelum bertarung di Pilpres 2019 dan akhirnya kalah.

Lidah orang Indonesia sudah akrab dengan tempe. Ini menu harian yang mudah dijumpai di warung maupun di rumah. Karena itu kita butuh 3 juta ton kedelai setiap tahun. Repotnya sekitar 80 hingga 90 persen kebutuhan itu berasal dari impor.

Lebih repot lagi kedelai yang selama ini jadi bahan baku tempe dan tahu di Indonesia, dijadikan pakan babi oleh China. Setelah demam babi Afrika yang melanda China pada 2018 hingga 2019, mereka mereformasi peternakan jadi lebih bersih dan modern. Mereka pun menggunakan kedelai untuk pakan babi.

Awalnya saat China mengimpor kedelai dari Argentina dan Brasil kita masih aman. Karena Indonesia impor kedelai dari Amerika Serikat. Namun produksi dari 2 negara itu juga terganggu, sehingga China beralih ke Amerika Serikat. Nah, Impor kedelai Indonesia jadi terganggu karena kedelai di sana diborong China. Kita berebut kedelai dengan ternak babi China.

Selain karena dijadikan pakan babi, harga kedelai yang masuk ke Indonesia jadi mahal juga karena gangguan panen akibat badai El Nina yang menghajar kawasan Amerika Selatan. Plus biaya logistik yang naik 4 kali lipat selama pandemi.

Mungkin ini momen yang baik untuk orang Indonesia berkreasi mengangkat jenis tempe yang lain dan tidak bergantung dengan kedelai yang sebagian besar masih impor. Kita bisa coba bikin tempe dari kacang-kacangan lain yang mudah tumbuh di Indonesia.

Contoh di Jawa Tengah dari dulu sudah ada Tempe Benguk. Itu adalah tempe yang terbuat dari kacang benguk atau kacang koro. Bentuknya hampir sama dengan tempe kedelai, hanya saja kacang benguk ukurannya lebih besar serta rasa tempe benguk berbeda dengan tempe kedelai.

Saya paling suka tempe benguk yang dibacem. Tempe bacem adalah tempe yang direbus dengan bumbu bawang merah, bawang putih, ketumbar, jinten, daun salam, garam dan gula kelapa. Setelah itu bisa dimakan langsung, bisa juga digoreng. Lebih enak dimakan dengan ceplusan cabai, jadi lebih lengkap rasanya di lidah.

Oya, saya senang bereksperimen macam-macam kalau lagi punya uang lebih. Tahun 2003 saya coba bikin tempe dari kacang ijo, tapi gagal. Mungkin kacang ijo memang tidak cocok untuk tempe.

(Agustinus Bole Malo, wartawan Borneonews.co.id)

error: Content is protected !!