Petani di Barito Timur Butuh Varietas Pisang Kepok yang Tahan Penyakit Layu

Pisang Manurun atau Pisang Kepok

TEKIWE – Budidaya Pisang Kepok (Musa Acuminata X Balbisiana) atau yang biasa disebut Pisang Manurun di Kalimantan memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan jika dilihat dari tingkat permintaan buah pisang kepok di pasaran.

Namun sayangnya banyak petani di Barito Timur yang menjadi enggan membudidayakan pada lahan yang luas karena seringkali mengalami gagal panen atau kualitas buah pisang kepok menjadi buruk ketika terserang penyakit layu bakteri.

Sebagai pelaku usaha mikro yang menggunakan pisang kepok sebagai bahan baku, saya cukup terkejut ketika mendapatkan penjelasan dari pemasok langganan saya bahwa pisang kepok yang dijual di Pasar Tamiang Layang hampir semua berasal dari provinsi tetangga Kalimantan Selatan.

Banyaknya pisang kepok di Barito Timur terinfeksi penyakit layu berdampak pada harga jual pisang kepok dari petani lokal yang justru lebih mahal dari pada harga pisang yang dikirim dari Kalsel. Harga pisang kepok dari Kalsel masih ditawar dengan harga partai Rp 800 per buah, sedangkan harga pisang kepok lokal justru lebih mahal beberapa ratus rupiah per buah.

Menurut beberapa sumber di internet, penyakit layu bakteri pada pisang kepok disebabkan oleh bakteri Pseudomonas Solanacearum Sebagian besar penularan penyakit terjadi melalui pemindahan ooze bakteri dari bunga jantan tanaman sakit ke bunga tanaman sehat yang dilakukan oleh serangga yang hinggap pada jantung pisang. Bakteri ini menyerang akar seluruh bagian pohon pisang.

Gejala awal pisang kepok terserang penyakit tersebut dapat dilihat dengan adanya perubahan warna pada daun muda. Awalnya terdapat garis coklat kekuningan ke arah tepi daun, lama kelamaan seluruh daun menguning, berwarna coklat dan akhirnya layu.

Pengalaman saya, buah pisang yang terserang penyakit layu bakteri biasanya ketika dikupas dalam kondisi masih mentah terdapat noda-noda pada daging buah. Jika dibuat keripik, penampakan keripik menjadi tidak menarik serta terasa hambar ketika dimakan. Tekstur buahnya juga tidak padat, bahkan buah ini kalau dibiarkan sampai matang jadi membusuk.

Bagi petani di Bartim, pisang yang terkena penyakit layu bakteri ini biasa disebut terkena virus. Nah, repotnya penyakit tersebut sampai saat ini belum ada obatnya sehingga satu-satunya cara untuk memberantas penyakit ini adalah dengan memusnahkan semua pisang yang telah tertular penyakit.

Sebagai pelaku usaha yang bergelut pada pengolahan hasil pertanian dan peduli dengan pengembangan teknologi pasca panen, saya prihatin ketika melihat petani-petani menjadi tidak bersemangat untuk mengembangkan kebun pisang kepok karena belum ada solusi untuk mengatasi penyakit layu darah pada pisang kepok.

Melihat masalah diatas, beberapa waktu lalu saya mencoba browsing di internet untuk mencari informasi tentang penyakit pada pisang kepok.

Saya temukan ternyata sejak tahun 2007 Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Kementan RI telah melepas varietas pisang kepok unggul bernama Pisang Kepok Tanjung yang tahan terhadap penyakit layu.

Pisang Kepok Tanjung merupakan jenis tanaman pisang tanpa jantung (tidak memiliki bunga jantan, serta nama tanjung sendiri adalah singkatan dari tanpa jantung). Varietas Pisang Kepok Tanjung berasal dari Pulau Seram, tepatnya di Desa Makariki, Kecamatan Amzahai, Kabupaten Maluku Tengah.

Varietas pisang ini memiliki keunggulan, yaitu tidak mempunyai jantung yang menjadi media menyebaran bakteri penyebab penyakit layu bakteri. Keunggulan lainnya, pisang kepok jantung memiliki rasa manis dan ukuran tandan yang lebih besar, dalam satu tandan bisa menghasilkan 9-17 sisir buah pisang.

Dengan sudah ditemukannya Varietas Pisang Kepok Tanjung yang tahan terhadap penyakit layu bakteri, semoga pemerintah daerah melalui dinas instansi terkait dapat membuat program pengadaan bibit Pisang Kepok Tanjung sehingga memicu kembali semangat petani di Bartim untuk menanam pisang kepok.

___________

Salam hangat, Agustinus Bole Malo

error: Content is protected !!