Berita  

Usai Viral, Objek Wisata Air Terjun Loko Winne di Sumba Barat Daya Kini Terbengkalai

Air terjun Loko Winne di Kabupaten Sumba Barat Daya.

TEKIWE, Sumba Barat Daya – Sempat viral pada tahun 2020 ketika warga setempat secara swadaya menata lokasi Air Terjun Loko Winne yang terletak di Desa Pada Eweta, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, kini objek wisata tersebut terbengkalai karena tangga kayu untuk menuruni tebing menuju air terjun sudah rusak.

Selain tangga kayu, pada tahun 2020 objek wisata tersebut juga dilengkapi dengan lopo atau tempat berteduh maupun tempat parkir kendaraan pengunjung.

Air Terjun Loko Winne saat masih ramai dikunjungi wisatawan

Saat ini, kondisi jalan curam dan tangga yang rusak menyebabkan wisatawan tidak bisa turun ke objek wisata.

“Banyak sekali pengunjung yang pulang dengan kecewa karena tidak bisa menikmati lagi keindahan air terjun terindah di Sumba Barat Daya ini, padahal mereka ingin menikmati suasana air terjun dan hutan yang masih alami karena mudahnya menjangkau lokasi ini, hanya membutuhkan waktu 15 menit dari Elopada 25 menit dari Waikabubak dan 40 menit dari Kota Tambolaka,” ungkap warga sekitar Air Terjun Loko Winne beberapa hari lalu.

Kepala Dinas Pariwisata Sumba Barat Daya, Nyoman Agus S, saat dimintai tanggapannya terkait kondisi ini mengatakan bahwa di setiap desa wisata sudah ada Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis yang bertanggung jawab mengelola objek wisata tersebut.

Jalan yang curam menuju air terjun dan tangga yang rusak membahayakan pengunjung.

“Nanti kita akan kolaborasi dengan pengelola, dengan desa dan kabupaten, apa dan siapa yg berbuat apa. Potensinya sangat bagus,” kata Nyoman.

Ketua Asosiasi Desa Wisata atau Asidewi Sumba Barat Daya, Afrianus Hezron Mawo yang dihubungi terpisah mengakui bahwa dari 24 desa wisata yang telah disahkan pemerintah kabupaten, sebagian besar belum dikelola dengan baik

“Asidewi bersama Forum Komunikasi Pembangunan Pariwisata (FKP2) sudah beberapa kali mencoba membangun komunikasi dengan pemerintah terkait penataan destinasi-destinasi desa wisata yang ada, namun selalu buntu karena alasan tidak adanya dana akibat refocusing anggaran terkait penanganan covid-19,” ungkapnya.

Meski demikian, Asidewi lanjut pria yang akrab dipanggil Rian ini, akan terus berupaya mencari mitra untuk bisa mendapatkan dana guna membantu membangun destinasi-destinasi wisata yang ada sehingga dapat berdampak bagi masyarakat di lokasi desa wisata.

Tangga yang terbuat dari kayu mudah lapuk dan rusak.

“Dalam waktu dekat Asidewi berencana untuk melakukan road show di 24 desa wisata, untuk berkomunikasi dengan pemdes sehingga dapat didorong dari dana desa pada APBDes 2022,” paparnya.

Rian berharap pemdes dan masyarakat sebagai subjek harus proaktif dalam melihat potensi desanya. Desa wisata, menurut dia, menjadi salah satu peluang percepatan pertumbuhan dan peningkatan ekonomi bagi desa tersebut jika ditata dan dikelola dengan baik.

“Pemerintah desa harus lebih tanggap. Yang perlu di persiapkan sebenarnya tidak banyak, membentuk pengelola yang profesional, diberi pelatihan, legalitas usaha desa wisata, pembangunan sarana penunjang seperti toilet, parkir yang nyaman, lopo-lopo untuk bersantai dan promosi. Itu sudah bisa jalan. Sebenarnya dana desa saja sudah bisa,” tandas Rian. (BM)

error: Content is protected !!